Ahli Gizi Dipertanyakan, Pengawasan MBG di Selayar Dinilai Asal-asalan
KORANDIGITAL | SELAYAR - Rentetan temuan makanan berulat dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kepulauan Selayar kian menguatkan dugaan lemahnya peran ahli gizi serta buruknya sistem pengawasan di lapangan.
Setelah kasus kurma berulat, kini buah salak yang dibagikan kepada siswa di UPT SDN Onemalangka No. 18, Kecamatan Pasimarannu, kembali ditemukan mengandung ulat. Fakta ini terekam dalam video berdurasi sekitar 11 detik yang dibuat oleh tenaga pendidik, memperlihatkan kondisi buah yang tidak layak konsumsi.
Kejadian berulang dalam waktu yang berdekatan ini memunculkan pertanyaan serius: apakah ada keterlibatan ahli gizi dalam menentukan menu dan memastikan kelayakan bahan pangan, ataukah fungsi tersebut hanya sebatas formalitas di atas kertas?
Dalam standar program pangan sekolah, peran ahli gizi tidak hanya menyusun menu, tetapi juga memastikan kualitas bahan, proses penyimpanan, hingga distribusi tetap higienis dan aman. Namun, temuan demi temuan ini justru menunjukkan indikasi pengawasan yang longgar bahkan terkesan asal-asalan.
Program SPPG di Pasimarannu sendiri baru berjalan sekitar satu bulan. Alih-alih menunjukkan kualitas layanan, fase awal pelaksanaan justru diwarnai masalah mendasar yang menyentuh aspek paling krusial: keamanan pangan bagi siswa.
Jika pengawasan berjalan sebagaimana mestinya, produk dengan kondisi seperti ini seharusnya sudah tersaring sebelum sampai ke sekolah. Fakta bahwa makanan bermasalah tetap lolos distribusi mengindikasikan adanya celah serius dalam sistem kontrol.
Sebelumnya, kerabat Pewarta di Pasimarannu Konfirmasi ke Pihak dapur, jawabannya singkat, "mungkin waktu di Sortir" singkat nya
Hingga saat ini pewarta masih berupaya mengonfirmasi pihak tenaga pendidik terkait kejadian tersebut. Namun, belum ada keterangan resmi yang diperoleh.
Kasus ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan cerminan lemahnya manajemen program. Tanpa pembenahan menyeluruh terutama pada peran ahli gizi dan sistem pengawasan MBG berisiko kehilangan substansi utamanya: menghadirkan makanan sehat dan aman bagi peserta didik.





Posting Komentar